<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eni Purwanti</title>
	<atom:link href="https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Jul 2013 22:54:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>10 Bahan Alami Penangkal Gatal</title>
		<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=60</link>
		<comments>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=60#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2013 07:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eni Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[<p>Prinsip kembali ke alam atau &#8220;back to nature&#8221; makin banyak dipilih karena sifatnya yang menggunakan bahan-bahan alami dianggap memberikan risiko yang minimal, namun manfaat yang tetap optimal.</p> <p>Menggunakan bahan-bahan alami ternyata juga berlaku untuk gangguan kesehatan kulit seperti gatal atau ruam. Ada beberapa bahan alami yang dapat digunakan guna menangkal gatal atau ruam yang diakibatkan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Prinsip kembali ke alam atau &#8220;back to nature&#8221; makin banyak dipilih karena sifatnya yang menggunakan bahan-bahan alami dianggap memberikan risiko yang minimal, namun manfaat yang tetap optimal.</p>
<p>Menggunakan bahan-bahan alami ternyata juga berlaku untuk gangguan kesehatan kulit seperti gatal atau ruam. Ada beberapa bahan alami yang dapat digunakan guna menangkal gatal atau ruam yang diakibatkan senyawa beracun, seperti racun binatang atau bahan kimia tertentu. Berikut di antaranya.<span id="more-60"></span></p>
<p><strong>1. Timun</strong><br />
Timun memiliki senyawa yang bersifat menyejukkan dan menyegarkan, maka timun banyak digunakan di salon-salon kecantikan. Namun tidak hanya itu, timun juga bisa digunakan sebagai obat ruam di kulit. Timun bisa dipotong, ditumbuk, atau diparut dan kemudian ditaruh di atas kulit yang ruam. <!--more--></p>
<p><strong>2. Kulit pisang</strong><br />
Khasiat kulit pisang untuk menyejukkan gatal sudah dikenal sejak lama. Cara penggunaannya cukup mudah, kulit pisang diletakkan di atas kulit yang gatal dengan bagian dalam menghadap ke kulit, kemudian dipijat perlahan hingga gatal berkurang.</p>
<p><strong>3. Cuka apel</strong><br />
Dengan segudang manfaat lain di dalamnya, cuka apel juga bermanfaat sebagai penangkal gatal. Pengaplikasiannya yaitu dengan menggunakan kapas atau kertas yang sudah ditetesi dengan cuka apel dan ditaruh di atas ruam. Fungsinya yaitu untuk menetralkan racun yang mungkin merupakan penyebab ruam.</p>
<p><strong>4. Baking soda</strong><br />
Penggunaan baking soda di kulit yang gatal dapat menarik racun ke permukaan sehingga dikenal juga sebagai obat jerawat alami. Untuk meringankan ruam, terutama ruam merah yang melepuh, tiga sendok baking soda dapat dicampur dengan air dan dioleskan ke kulit yang ruam.</p>
<p><strong>5. Oatmeal</strong><br />
Gatal dan ruam ternyata juga dapat diatasi dengan oatmeal. Pertama, oatmeal dihaluskan hingga menjadi bubuk, kemudian masukan ke dalam kantong yang diikatkan pada kran tempat keluarnya air pada bak mandi. Berendamlah di air hangat yang sudah tercampur dengan oatmeal selama 30 menit. Oatmeal juga bisa langsung diaplikasikan pada bagian kulit yang ruam dan gatal.</p>
<p><strong>6. Lidah buaya</strong><br />
Lidah buaya atau dikenal juga dengan Aloe vera dapat digunakan sebagai penyejuk rasa terbakar pada kulit. Getah lidah buaya bisa langsung dioleskan pada bagian kulit yang terasa terbakar.</p>
<p><strong>7. Alkohol</strong><br />
Alkohol digunakan untuk mencegah penyebaran gatal karena racun. Oleskan alkohol dengan cepat ke daerah kulit yang terkena racun guna mencegah racun masuk lebih ke dalam pada kulit.</p>
<p><strong>8. Sari lemon</strong><br />
Asam dari sari lemon merupakan astringent (bahan yang bersifat mengeringkan) alami. Sari lemon bekerja dengan mengeliminasi minyak yang berlebihan, sehingga banyak digunakan sebagai produk kecantikan. Namun dalam menangkal gatal, sari lemon dapat menyerap racun yang berbentuk minyak sehingga mengurangi gatal. Sari lemon bisa langsung dioleskan pada bagian kulit yang gatal dan ruam.</p>
<p><strong>9. Air mengalir</strong><br />
Begitu kulit terkena racun atau bahan kimia, hal yang paling mudah dilakukan yaitu mencucinya di bawah air mengalir. Air mengalir akan membawa racun keluar dari permukaan kulit sehingga mencegahnya untuk masuk lebih dalam.</p>
<p><strong>10. Kompres dingin</strong><br />
Kompres dingin langsung di kulit yang ruam untuk meringankan gatal dan mencegah Anda untuk menggaruknya. Ingat, kuku yang tajam dapat membuka bagian ruam yang melepuh sehingga menyebabkan infeksi.</p>
<div><strong>Sumber :</strong></div>
<div><a href="http://health.kompas.com/read/2013/07/15/1121206/10.Bahan.Alami.Penangkal.Gatal#">Readers Digest</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2&#038;p=60</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>8 Fakta Unik Gigitan Nyamuk</title>
		<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=57</link>
		<comments>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=57#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2013 07:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eni Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hampir setiap orang jengkel digigit nyamuk. Rasa gatal dan bekas-bekas merah yang ditimbulkan setelah gigitan tentu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mengurangi rasa percaya diri. Selain itu, yang lebih parah gigitan nyamuk juga berpotensi menularkan penyakit.</p> <p>Namun, di balik efek gigitan nyamuk yang menjengkelkan, ada juga beberapa fakta unik seputar aksi gigitan nyamuk, berikut di [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir setiap orang jengkel digigit nyamuk. Rasa gatal dan bekas-bekas merah yang ditimbulkan setelah gigitan tentu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mengurangi rasa percaya diri. Selain itu, yang lebih parah gigitan nyamuk juga berpotensi menularkan penyakit.</p>
<p>Namun, di balik efek gigitan nyamuk yang menjengkelkan, ada juga beberapa fakta unik seputar aksi gigitan nyamuk, berikut di antaranya.<span id="more-57"></span></p>
<p><strong>1. Nyamuk menyukai tubuh yang berkeringat</strong><br />
Nyamuk bukan menyukai Anda karena bau darah yang menggiurkan baginya, tetapi karena karbondioksida yang dikeluarkan tubuh. Semakin banyak karbondioksida yang Anda keluarkan,  kemungkinan semakin menarik Anda di mata nyamuk. Nyamuk umumnya lebih banyak datang sesaat setelah berolahraga karena tubuh mengeluarkan banyak karbondioksida.</p>
<p><strong>2. Nyamuk yang menggigit hanyalah nyamuk betina</strong><br />
Jangan salahkan semua nyamuk karena nyamuk yang mengigit hanyalah nyamuk betina. Nyamuk jantan tidak butuh darah manusia karena sudah mendapat nutrisi yang dibutuhkan dari nektar. Sementara nyamuk betina membutuhkan darah yang mengandung protein yang membantu pengembangan telur-telur nyamuk yang berjumlah ratusan.</p>
<p><strong>3. Nyamuk menyukai bir</strong><br />
Bukan berarti nyamuk langsung minum bir, melainkan nyamuk menyukai orang yang minum bir. Ada perubahan senyawa kimia tertentu di dalam tubuh orang yang minum bir sehingga dapat menarik nyamuk.</p>
<p><strong>4. Nyamuk menyukai kaki yang bau</strong><br />
Para peneliti menunjukkan, kaki yang mengeluarkan aroma bau lebih menarik bagi nyamuk.</p>
<p><strong>5. Nyamuk menyukai orang yang berdiri di pinggir</strong><br />
Jika sedang di kerumunan, jangan berdiri di pinggir kalau tidak mau digigit nyamuk. Hal ini karena nyamuk lebih mudah mencapai orang yang berada di pinggir daripada yang berada di tengah.</p>
<p><strong>6. Nyamuk tidak menyukai taman yang terawat</strong><br />
Taman identik dengan nyamuk. Namun, jika taman dirawat dengan baik, jumlah nyamuk dapat diminimalisasi. Maka, rutinlah membersihkan taman, pangkas tanaman-tamanan yang sudah mulai tidak beraturan, dan kuraslah kolam yang mungkin ada di sana.</p>
<p><strong>7. Alat &#8220;pemancing&#8221; nyamuk justru buat nyamuk semakin banyak</strong><br />
Jika Anda memiliki alat pemancing nyamuk, sebuah alat yang mengeluarkan gas karbondioksida dan memerangkap nyamuk, mungkin ada baiknya untuk tidak menggunakannya lagi. Alat itu justru akan membuat jumlah nyamuk semakin banyak karena karbondioksida yang dikeluarkannya memancing banyak nyamuk untuk datang.</p>
<p><strong>8. Nyamuk menyukai wanita hamil</strong><br />
Saat hamil, pengeluaran karbondioksida dari tubuh semakin banyak, terutama di bagian perut, lantaran bayi pun ikut menyumbangkan emisi. Inilah yang membuat nyamuk lebih tertarik pada wanita hamil, terutama di bagian perut mereka.</p>
<div><strong>Sumber : </strong><a href="http://health.kompas.com/read/2013/07/15/1338417/8.Fakta.Unik.Gigitan.Nyamuk#">Readers Digest</a></div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2&#038;p=57</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Terpaksa Menikahimu&#8230;&#8230;</title>
		<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=51</link>
		<comments>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=51#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jul 2013 03:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eni Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiratif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[<p>Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki : [mohon dibaca sampai selesai yah..] Insya Allah Menginspirasi</p> <p>begini ceritanya:</p> <p>Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.</p> <p>Walaupun [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :<br />
[mohon dibaca sampai selesai yah..] Insya Allah Menginspirasi</p>
<p><i>begini ceritanya</i>:</p>
<p>Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.</p>
<p>Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.<span id="more-51"></span></p>
<p>Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.</p>
<p>Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.</p>
<p>Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.</p>
<p>Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.</p>
<p>Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.</p>
<p>Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.</p>
<p>Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.</p>
<p>“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.</p>
<p>Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”</p>
<p>“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.</p>
<p>Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.</p>
<p>Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.</p>
<p>Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.</p>
<p>Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.</p>
<p>Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.</p>
<p>Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.</p>
<p>Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.</p>
<p>Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.</p>
<p>Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.</p>
<p>Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.</p>
<p>Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.</p>
<p>Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.</p>
<p>Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.</p>
<p>Istriku Liliana tersayang,</p>
<p>Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.</p>
<p>Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.</p>
<p>Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.</p>
<p>Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu., dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!</p>
<p>Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.</p>
<p>Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.</p>
<p>Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.</p>
<p>Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”</p>
<p>Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”</p>
<p>Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”</p>
<p>Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”</p>
<p>Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>sumber: dr tetangga sebelah, lupa <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2&#038;p=51</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 Juni &#8211; 11 Juli</title>
		<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=39</link>
		<comments>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2013 06:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eni Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anakku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[<p>11 Juni 2013. Usiamu 2 tahun 2 bulan 9 hari, waktu itu. Berbulan2 ibu berusaha menyapihmu. Tapi keukeuh tidak ingin menggunakan cara2 yg aneh, apalagi kekerasan. Ibu ingin semua murni dari kesadaranmu. Ayah dan ibu hanya terus berusaha memberimu pengertian bahwa anak ibu sudah besar, sudah sekolah, sudah pinter, teman-teman disekolah semuanya mimik susu sapi, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/1003958_207189409435166_1875551084_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-45 alignleft" alt="1003958_207189409435166_1875551084_n" src="http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/1003958_207189409435166_1875551084_n-300x300.jpg" width="126" height="126" /></a>11 Juni 2013. Usiamu 2 tahun 2 bulan 9 hari, waktu itu. Berbulan2 ibu berusaha menyapihmu. Tapi keukeuh tidak ingin menggunakan cara2 yg aneh, apalagi kekerasan. Ibu ingin semua murni dari kesadaranmu. Ayah dan ibu hanya terus berusaha memberimu pengertian bahwa anak ibu sudah besar, sudah sekolah, sudah pinter, teman-teman disekolah semuanya mimik susu sapi, nenennya ibu itu untuk adek bayi. Begitu seterusnya setiap hari Ayah Ibu mengingatkan. Sampai-sampai kamu hafal diluar kepala kata-katanya “Khalida sudah besal. Sudah gak nenen ibu. Mimiknya susu Sapi pake dodot!” <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .<span id="more-39"></span></p>
<p>Awalnya hanya sebatas hafalan, tapi lama-lama berhasil mempraktekan. Dan yang paling susah waktu itu adalah ketika menjelang tidur malam. Belum pernah kamu bisa tidur sendiri tanpa nenen L. Hari Selasa tanggal 11 Juni 2013 merupakan hari yg ‘amazing’ bagi Ayah dan Ibu, untuk pertama kalinya seharian full tidak nenen dan  berhasil tidur sendiri tanpa nenen tentunya. Hanya di puk-puk sambil dibacain buku cerita Kisah-kisah Hewan dalam Al-Qur’an favoritmu atau membaca doa dan surat2 pendek atau dinyanyikan 1 album lagu. Dan sejak hari itu, ibu nyatakan ‘ibu berhasil menyapihmu’:D. Luar biasa rasanya. Ternyata Khalida bisa. Ternyata tanpa macem2 pun ibu bisa. Terima kasih Khalida…</p>
<p>Beberapa minggu kemudian, ibu tanya “Ini nenennya siapa?”. Di jawab dengan lantangnya, “Nenennya aku waktu masih bayi. Sekalang sudah besal. Mimiknya susu sapi” <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>11 Juli 2013. Hari ini, persis sebulan yang lalu ibu menyapihmu. Tidak pakai mantra, tidak pakai jampi-jampi, tidak pakai lipstik, tidak pakai brotowali, tidak ke mantri, tidak ke dukun, tidak ke dokter, juga tidak di plester. Ibu hanya modal ‘tega’ mendengarkan tangisanmu ketika sesekali minta. Dan segera ibu alihkan ke yang lain. Digendong sepuasmu. Jalan-jalan lihat bebek, lihat kambing, lihat kucing, lihat rusa, lihat kereta, dan sebagainya. Sampai-sampai ibu nyetok aneka cemilan kesukaanmu <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Sehat terus ya nak. Semangat terus belajarnya. Tumbuhlah menjadi anak solehah cerdas dan menyejukkan hati Ayah Ibu dan orang-orang disekellingmu. Ibu yakin Alloh SWT selalu menjagamu setiap saat sepanjang waktu. Terima kasih Ya Allah, Ya Rahmaan Ya Rahiim Ya Fattah Ya Razaaq.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2&#038;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My First Note</title>
		<link>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=23</link>
		<comments>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jul 2013 02:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eni Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[<p class="wp-caption-text">Athifa di Telaga Sarangan Magetan, 22 Juni 2013</p> <p>Hari ini tepat hari pertama bulan Romadhon 1434H. Seluruh umat muslim berlomba-lomba meningkatkan amal ibadahnya. Yang dulunya tidak pernah sholat, sekarang berbondong-bondong ke masjid. Yang dulunya tidak pernah puasa, sekarang semangat menjalankan [meskipun biasanya awal2 doank ]. Tapi gak papa. Segala sesuatu kan memang harus belajar. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_33" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><a href="http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/DSC_0008.jpg"><img class=" wp-image-33   " alt="DSC_0008" src="http://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/DSC_0008-199x300.jpg" width="160" height="242" /></a><p class="wp-caption-text">Athifa di Telaga Sarangan Magetan, 22 Juni 2013</p></div>
<p>Hari ini tepat hari pertama bulan Romadhon 1434H. Seluruh umat muslim berlomba-lomba  meningkatkan amal ibadahnya. Yang dulunya tidak pernah sholat, sekarang berbondong-bondong ke masjid. Yang dulunya tidak pernah puasa, sekarang semangat menjalankan [meskipun biasanya awal2 doank <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ]. Tapi gak papa. Segala sesuatu kan memang harus belajar. Harus dicoba. Harus ditingkatkan. Apalagi &#8216;sesuatu&#8217; itu perbuatan baik. Kalo sudah belajar, terus dipraktekan. Dan konsisten mempraktekan. Setelah itu lama-lama akan terbiasa dengan sendirinya.<span id="more-23"></span></p>
<p>Sama kayak belajar komputer <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Tiga minggu yang lalu, ikut pelatihan: MS Word, MS Excel, dan MS Power Point. Meski materi diluar perkiraan, tapi banyak hal yang didapatkan. Seperti segambreng shortcut di MS Word, ngitung-ngitung pake rumus di MS Word, IF-AVERAGE-SUM-MIN-MAX-nya MS Excel, dan sebagainya. Intinya tidak boleh menganggap remeh sesuatu. Anggepe wes mahir, jebul okeh sing durung reti..:P.</p>
<p>Tadi, segala sesuatu harus meningkat kan ya. Mulai sekarang klo buka komputer punya &#8216;mainan&#8217; baru <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Kan harus meningkat. Yang tadinya cuma pesbukan, ngaskus, ngompas, ndetik, ngyahoo, ngonlain, de el el, sekarang belajar ngutak atik web. Wuiiihhh!! Kata terakhir kui lhoo,, nggilani. Opo yo isooo??? Hehehe.. Katanya, dengan belajar semua pasti bisa. Belajar kan tidah harus dari buku [padune ra seneng moco buku <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ]. Bisa dari mana saja. Tapi, khusus belajar yg satu ini, ane punya guru. Guru yang satu itu beda dengan guru-guru yang lain di dunia ini <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Guru ini sangat special dihatiku [haattssssah <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ]. Guru itu adalah kekasihku. Guru itu adalah ayahnya Khalida Athifa Rif&#8217;at, anaku. Guru itu adalah suamiku <img src='https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Terima kasih cinta untuk semuanya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://enipurwanti.staff.ugm.ac.id/?feed=rss2&#038;p=23</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
